Bioetanol Dari Nira Siwalan, Efisienkah?

Saya dan team sedang mengkaji mengenai penggunaan biofuel dari nira, sebenarnya tugas ini sangat mudah dan tidak terlalu berat jika kajiannya hanya pada aspek teknis, karena nira akan secara otomatis terfermentasi menjadi alkohol meskipun kita tidak menambahkan sesuatu kedalamnya. Yang menjadi persoaalan adalah apakah hal itu efisien?

Selama ini masih belum ada kajian yang secara spesifik membahas mengenai penggunaan nira siwalan, bahkan saya coba untuk searching di www.sciencedirect.com juga belum menemukan secara spesifik bahwa tanaman ini digunakan sebagai produk bioetanol dalam jumlah massal. Mahasiswa saya saja baru akan meneliti sekarang masih dalam proses penelitian. Terlepas dari itu semua, didaerah sulawesi sebenarnya telah lama dikembangakn nira siwalan ini untuk minuman beralkohol, untuk menjadi minuman beralkohol tentunya sangat mudah bagi mereka, begitupun di daerah tuban, disepanjang jalan pantura banyak sekali kita menemukan minuman terfermentasi yang biasa disebut dengan alkohol.

Minuman terfermentasi ato biasa disebut legen ini hanya mengandung kadal alkohol antara 2% saja, sehingga untuk melakukan pemurnian akan sangat merugikan. Refining yang dilakukan disulawesi dengan kadar etanol 3-4% membutuhkan sekitar 8-9 liter nira untuk menjadi 1 liter etanol dengan kadar 34-35%. Nah pertanyaannya adalah apakah ini layak? Maka jawabanya adalah tergantung dari harga jual etanol dan harga bahan baku serta biaya proses. Jika dihitung-hitung ternyata di daerah sulawesi tersebut menguntungkan, karena pasarnya adalah industri farmasi.

Nah, analisis saya, jika kita menggunakan teknologi proses yang lebih efisien dengan penambahan saccaromyces dan menambahkan beberapa senyawa sehingga si saccaromyces menjadi “nyaman” saya yakin produksinya akan menjadi maksimal, apalagi teknologi destilasinya diganti dengan teknologi membran, waw…. mungking akan lebih menguntungkan kali… ini yang masih saya teliti dan akan saya analisis.. doakan sukses ya..

Add comment Juni9 , 2008

Teknologi Baru Pengeringan menggunakan supercritical carbon dioxide (1)

Pernah dengar tidak istilah tersebut (scCO2), saya mungkin juga baru mendengar (maklum orang pedalaman jadi kurang gaul ), namun materi yang saya dapatkan ini mungkin menarik juga untuk diteliti di Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa fungsi dari pengeringan produk adalah untuk mengurangi kadar air dengan tujuan untuk mengurangi aktivitas air yang ada dalam produk sehingga dapat mencegah adanya kerusakan. Kandungan air yang ada dalam produk sangat menentukan masa kadaluarsa dari produk, kalo tidak salah nih, sebagian besar bakteri tidak dapat hidup jika nila aw-nya dibawah 0.91 dan bakteri tersebut akan berhenti tumbuh di bawah 0.81% (ini kata beuchat (1983) lho.. kalo mau artikelnya boleh kok indent nanti akan saya kirim, via e-mail pastinya).

Dari aktivitas air ini tentunya akan berpengaruh terhadap aktivitas enzim dan vitamin yang ada didalam makanan tersebut, berubahnnya enzim pasti akan merubah aroma, rasa serta kenampakan dai makanan, oleh karena itu hingga saat ini para peneliti masih berjuang keras untuk mempertahankan vitamin dan aktivitas enzim yang ada dalam makanan termasuk dalam proses pengeringan.

Nah masalahnya selama inikan proses pengeringan ya menggunakan sinar matahari atau pengering oven, dimana pada proses ini prinsipnya adalah mengusir si air tersebut dengan memanfaatkan porositas produk sehingga air yang terdapat didalam pori produk akan menguap dan menyebabkan produk menjadi kering alias porositasnya kosong (kalo ini kata Krokida dan Maraulis, 1997)

Suhu tinggi yang digunakan dalam proses pengeringan selama ini (kalo tidak salah suhunya antara 65-80 derajat celcius) ternyata menyebabkan kerusakan pada struktur mikro dari bahan dan apa yang terjadi selanjutnya… jelas akan berpengaruh terhadap rasa, warna, teste dll parahnya lagi adalah menurunnya kandungan vitamin yang ada dari produk.

Apakah selama ini tidak ada metode pengeringan yang lain? jawabannya adalah ada seperti pengeringan dengan menggunakan microwave, osmotic drying, freeze drying, dan vacum dryaing.. namun selama ini tetap saja bahwa metode tersebut masih memiliki kelemahan yaitu menurunnya kualitas produk.. ini juga hasil riset lho… ini hasil riset dari (Vega-Mercado, Marcela Gongora-Nieto,&Barbosa-Canovas, 2001).

Keuntungan dari teknik diatas biasanya adalah memiliki waktu yang cepat dibandingkan dengan menggunkan sinar matahari.. namun kelemahan yang mendasar adalah membutuhkan energi yang mahal.. (tahu sendiri barusan BBM naik jadi tambah mahal dong..)

Nah kayak apa sih kehebatan dari Supercritical carbon dioxide… kita lanjutkan besok ya.. saya harus ngajar nich..

sumber:
Beuchat, L. R. (1983). Influence of water activity on growth, metabolic activities, and survival of yeasts and molds. Journal of Food Protection, 46, 135−141

Krokida, M. K., Karathanos, V. T., Maroulis, Z. B., & Marinos-Kouris, D. (2003). Drying kinetics of some vegetables. Journal of Food Engineering, 59(4), 391−403

Vega-Mercado, H., Marcela Gongora-Nieto, M., & Barbosa-Canovas, G. V. (2001). Advances in dehydration of foods. Journal of Food Engineering, 49 (4), 271−289.

Add comment Mei26 , 2008

Teknologi Membran akan Merubah Agroindustri

Teknologi membran merupakan salah satu teknologi pemisahan yang sangat berguna dalam pengembangan agroindustri, teknologi ini mampu mensterilkan produk makanan yang berfasa cair tanpa dilakukan pemanasan. Di Indonesia Teknologi ini masih tergolong baru karena masih belum familiarnya masyarakat dengan teknologi ini.

Beberapa industri yang dapat diterapkan adalah industri minuman, industri gula, industri air tawar dari air laut (cocok untuk PDAM dan pulau terpencil), pengolahan limbah cair dan lain-lain.

Permasalahan mendasar yang sekarang dihadapi adalah teknologi ini masih tergolong MAHAL karena komponen membrannya harus di impor, untuk itu diperlukan banyak riset agar Indonesia mampu untuk memproduksi sendiri membran, dengan harapan teknologi ini mampu untuk di adopsi oleh Usaha Kecil Menengah

Add comment November2 , 2007

Ampas Melinjo Sangat Potensial Untuk Agroindustri Krupuk Melinjo

picture1.jpgAmpas melinjo ternyata masih sangat potensial untuk digunakan sebagai agroindustri skala UKM industri krupuk. hal ini terungkap dari hasil ujicoba yang telah dilakukan oleh Mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian. dari hasil ujicoba pada skala pilot plant, bahan baku yang didapatkan dari limbah ekstraksi minyak atsiri dari biji melinjo ini, masih layak di produksi pada skala UKM dengan kapasitas produksi per harinya sebesar 50 kg.

Uji coba yang telah dilakukan pada UKM industri krupuk di daerah Landungsari Kec. Dau Kabupaten Malang tersebut mampu memberikan aroma layaknya aroma emping melinjo, dengan mutu yang hampir menyamai mutu emping melinjo ini sangat cocok bagi pada pecinta emping melinjo namun belum cukup uang untuk membelinya, rencananya hasil produksi emping melinjo ini akan dijual dengan harga Rp. 8000 per kilogramnya (dalam keadaan mentah), harga ini sangat terjangkau jika dibandingkan dengan harga dari emping melinjo yang asli.

1 comment November2 , 2007


Kalender

Desember 2009
M S S R K J S
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Komentar Terbaru

Blogroll

Top Clicks

Komentar

Blog Stats